Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang pesat belakangan ini dan membawa dua perubahan besar. Perubahan pertama adalah kecenderungan usaha besar dan kecil menengah (UKM) untuk beralih ke pendekatan baru dalam bisnis online, biasanya dengan mendirikan toko online atau pindah ke toko online. Perubahan lain yang bertepatan dengan ini adalah kelompok pembeli baru, juga dikenal sebagai Generasi Z, yang harapan dan reaksi pembeliannya berbeda. Konsumen muda saat ini begitu akrab dengan belanja online sehingga tren belanja semakin meningkat dari sebelumnya1. Efisiensi waktu menjadi alasan utama para konsumen muda ini untuk berbelanja online. Jika tidak diantisipasi, perubahan tersebut dapat menimbulkan masalah bagi perusahaan yang menargetkan Gen Z di pasarnya dalam hal penawaran produk.

Generasi Z tumbuh. Ini adalah fenomena langka di mana dunia berubah secara dramatis dalam waktu singkat. Telah terjadi begitu banyak perubahan secara politik, sosial, teknologi dan ekonomi. Generasi Z secara luas dianggap sebagai kekuatan super konsumen berikutnya. Pada tahun 2020, Gen Z akan mewakili hampir 40% dari total daya belanja konsumen2. Ini sudah dimulai, karena pengeluaran keluarga dan pembelian rumah tangga semakin dipengaruhi oleh anak-anak. Bisnis yang ingin menjual kepada pelanggan Gen Z ini perlu mengetahui siapa mereka, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka menginginkannya.
Indonesia merupakan pasar penting bagi perusahaan lokal, regional dan global. Badan Pusat Statistik memperkirakan jumlah penduduk akan meningkat dari 238,5 juta pada tahun 2010 menjadi 305,6 juta pada tahun 2035. Pada periode ini, mayoritas anak muda di Indonesia termasuk dalam “kelompok usia kerja”. Indonesia telah menikmati bonus demografi sejak 2012, dengan puncaknya pada 2028-2030, menurut perhitungan Badan Pusat Statistik. Populasi perkotaan Indonesia telah melampaui populasi pedesaan sejak 2013. Temuan ini menyoroti peran penting Generasi Z di masa depan Indonesia. Sebagian besar penduduk muda adalah mesin pertumbuhan negara. Demikian pula, hal itu menciptakan peluang bagi perusahaan untuk mengakuisisi sebagai pelanggan dan memasuki segmen pasar ini.
Dunia usaha, baik besar maupun kecil, harus beradaptasi dengan ketidakpastian permintaan konsumen dan dampaknya terhadap biaya operasional. Ketidakpastian biasanya disebabkan oleh perubahan permintaan yang tidak teratur atas produk perusahaan. Kegagalan untuk mengelola ketidakpastian ini dapat menyebabkan kekurangan stok dan kehilangan penjualan karena konsumen memilih untuk membeli produk dari pesaing karena perusahaan menjadi kurang kompetitif.
Ada semakin banyak bukti bahwa perkembangan TIK dengan cepat berdampak pada kelompok konsumen baru: kaum muda dengan kebiasaan membeli dan belanja yang berbeda. Generasi baru ini diberi nama yang berbeda oleh para ahli yang berbeda. Tapscott (2008) menyebut mereka Generasi Net, yang ditandai dengan kontrol yang lebih besar atas teknologi informasi dan komunikasi3. Prensky (2001) menyebut mereka digital native karena mereka lahir di era komputer4. Howe dan Strauss (2009), sebaliknya, menyebut mereka sebagai generasi milenial, anak muda yang lahir setelah tahun 19825. Rowlands et al., (2008) mendefinisikan mereka sebagai generasi Google karena mereka lahir setelah tahun 1993 dan tumbuh di dunia yang terhubung dengan internet6. Generasi ini tidak memiliki ingatan akan kehidupan atau interaksi sosial sebelum era Internet.
Istilah Generasi Z diperkenalkan oleh Berkup pada tahun 2014. Generasi Z dapat dicirikan sebagai ketergantungan teknologi karena mereka mengenal teknologi internet dengan baik, aktif menggunakannya, mencari hiburan dan bersosialisasi secara online. Mereka mendapatkan semua informasi yang mereka butuhkan di internet dan seringkali online 24/7. Generasi Z menginginkan segalanya menjadi cepat dan mudah, kecanduan teknologi dan media sosial, mendapatkan informasinya dari internet, dan selalu berbagi informasi secara online. Mereka juga pandai melakukan banyak tugas, tidak menyukai kerja sama tim, dan efisien dengan teknologi7.
Generasi pembeli yang lebih muda, yang dikenal sebagai Generasi Z, memiliki sikap yang berbeda dengan generasi lainnya. Generasi Z adalah konsumen yang membelanjakan uangnya segera setelah mereka merasa ingin membeli produk tertentu8. Generasi Z menyukai belanja online. Kenyamanan (convenience), harga lebih murah, pemilihan produk dan efisiensi waktu adalah alasan paling umum untuk belanja online. Busana/Fashion adalah kategori belanja yang mengutamakan belanja online, diikuti oleh makanan dan minuman. Wanita Gen Z adalah konsumen online yang lebih menyukai pakaian/barang fashion dibandingkan pria Gen Z. Gen Z tumbuh dan akan menjadi pelanggan besar dalam waktu dekat. Untuk pengecer yang mencoba menjual kepada pelanggan ini, itu berarti mengetahui siapa mereka, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka menginginkannya. Pengecer juga harus membuat rencana atau strategi untuk bisnis mereka, khususnya pentingnya belanja online atau e-commerce. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Generasi Z sudah terbiasa dengan belanja online dan tren belanja semakin meningkat dari sebelumnya. Pria dan wanita Gen Z juga memiliki prioritas pengeluaran yang berbeda di toko online. Oleh karena itu, Internet telah menjadi saluran penting bagi pengecer untuk terhubung dengan Gen Z dan membangun hubungan jangka panjang dengan generasi ini.
1 Wang, R. J.-H., Malthouse, E. C., & Krishnamurthi, L. (2015). On the Go: How Mobile Shopping Affects Customer Purchase Behavior. Journal of Retailing, 91(2), 217–234. https://doi.org/10.1016/j.jretai.2015.01.002
2 Netzer, J. (2017, August 22). 5 Stats on Generation Z Buying Habits Marketers Need.
Retrieved February 22, 2022, from https://www.spredfast.com/socialmarketing-blog/5-stats-generation-z-buying-habits-marketers-need
3 Tapscott, D. (2008). Growing up digital: the rise of the net generation. D. Buckingham,
Introducing Idenfity, The John D. and Catherine T. MacArthur Foundation Series on Digital Media and Learning, 13.
4 Prensky, M. (2001). Digital Natives, Digital Immigrants Part 1. On the Horizon, 9(5), 1–6. https://doi.org/10.1108/10748120110424816
5 Howe, N., & Strauss, W. (2009). Millennials rising: The next great generation. Random House LLC
6 Rowlands, I., Nicholas, D., Williams, P., Huntington, P., Fieldhouse, M., Gunter, B.,
Tenopir, C. (2008). The Google generation: the information behaviour of the
researcher of the future. Aslib Proceedings, 60 (4), 290–310.
https://doi.org/10.1108/00012530810887953
7 Berkup, S. B. (2014). Working With Generations X And Y In Generation Z Period:
Management of Different Generations in Business Life. Mediterranean Journal
of Social Sciences. https://doi.org/10.5901/mjss.2014.v5n19p218
8 Simangunsong, E. (2019). Generation-Z Buying Behaviour in Indonesia Opportunities. Jurnal Karya Ilmiah Prasetiya Mulya.