PENGARUH STUNTING TERHADAP PERKEMBANGAN SDM

 By. YULISTIANI (Email : tianiyulis56@gmail.com)

Seperti yang banyak orang ketahui, perkembangan zaman semakin maju, namun itu semua tidak terlepas dari yang namanya sebuah permasalahan. Seperti halnya dalam bidang kesehatan, kita ingin suatu generasi maju, namun juga tidak terlepas dari yang namanya permasalahan. Banyak Istilah-istilah baru yang bermunculan untum menunjukkan permaslalahan dibidang kesehatan. Ya, salah satunya adalah stunting. Isitlah yang masing asing di telinga sebagian orang.

Karena kurangnya kosa kata dan ilmu pengetahuan sebagain dari kita, juga belum samapinya sosialisasi atau edukasi mengenai hal itu, jadi kita akan sulit mengartikannya. Namun dengan semakin berkembangnya zaman, dan kemudahan akses digital kita akan lebih mudah mengakses informasi yang sebelumnya belum kita ketahui.

Stunting merupakan bentuk lain dari kekurangan gizi pada anak di bawah umur. Stunting berawal dari masalah kurang gizi kronis (kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama), sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. WHO (2015)

Kekurangan gizi yang terjadi sejak bayi masih berada dalam kandungan atau pada masa awal setelah bayi baru lahir. Kondisi yang signifikan baru terlihat ketika bayi berusia 2 tahun. Betapa pentingnya peduli terhadap kesehatan ini dimulai semenjak anak berada dalam kandungan, karena nanti akan berakibat fatal jika dibiarkan hingga sampai dilahirkan, karena kondisi ini akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sebuah generasi dan sumber daya manusia kedepannya. Anak yang terkena stunting berisiko lebih tinggi mengidap penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes, dan obesitas, karena kebutuhan zat gizi mikro dan makro dalam tubuh tidak terpenuhi secara maksimal sehingga pembentukan fungsi sel tubuh dan lainnya tidak sempurna.

Kondisi Stunting ini dapat memberikan perngaruh negative terhadap perkembangan Sumber daya Manusia (SDM), diantaranya sebagai berikut:

  1. Keterlambatan perkembangan fisik dan intelektual: Anak yang menderita stunting cenderung memiliki keterlambatan dalam perkembangan fisik dan intelektual dibandingkan dengan anak yang tidak menderita stunting. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar dan mengurangi kapasitas anak untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi.
  2. Kurangnya kesehatan: Anak yang menderita stunting cenderung lebih rentan terhadap berbagai penyakit seperti infeksi saluran pernapasan, diare, dan malnutrisi. Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan fisik dan intelektual, serta meningkatkan risiko kesehatan dan kematian di masa depan.
  3. Kurangnya produktivitas: Anak yang menderita stunting cenderung memiliki kapasitas fisik dan intelektual yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak menderita stunting. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya produktivitas di masa depan dan mengurangi potensi ekonomi suatu negara.
  4. Keterlambatan dalam proses belajar, perkembangan mental dan kognitif yang terganggu.
  5. Resiko untuk mengalami masalah kesehatan jangka panjang seperti diabetes, hipertensi dan obesitas.

Cara mencegah stunting adalah dengan melakukan pemeriksaan disaat masih menjadi janin, pentingnya edukasi dan sosialisasi bagi orang tua, konsumsi makanan yang mengandung nutrisi seimbang, menerapkan pola makan bergizi seimbang, mencegah anemia, berolahraga secara rutin, menyusui ASI eksklusif, melakukan imunisasi, sanitasi dan akses air bersih, memberikan vitamin A rutin dan suplemen. Selain itu, berikut beberapa poin yang bisa menjadi perhatian untuk mencegah pengaruh negative stunting:

  1. Memberikan gizi yang cukup: Memberikan gizi yang cukup dan seimbang selama masa pertumbuhan anak dapat mencegah stunting dan meningkatkan kualitas SDM.
  2. Menyediakan akses pendidikan: Memberikan akses pendidikan yang baik dan menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai dapat membantu mengurangi keterlambatan perkembangan fisik dan intelektual yang diakibatkan oleh stunting.
  3. Meningkatkan kesehatan ibu: Meningkatkan kesehatan ibu dapat membantu mencegah stunting pada bayi dan meningkatkan kualitas SDM.
  4. Program pemberian makanan tambahan pada anak-anak yang stunting, memberikan vitamin dan mineral yang dibutuhkan.
  5. Menerapkan pola hidup sehat dengan memperhatikan asupan gizi, olahraga, dan istirahat yang cukup.
  6. Melakukan program pencegahan stunting di level komunitas, seperti memberikan edukasi gizi dan kesehatan reproduksi.
  7. Meningkatkan kualitas pendidikan dengan menyediakan fasilitas yang memadai dan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan anak.
  8. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program-program yang dijalankan untuk mengurangi stunting dan memastikan bahwa program tersebut efektif dan sesuai dengan kebutuhan setempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bantuan terkait lift:
0821-7697-5982

Humas UIN STS Jambi:
0811-7467-899