By. Ogi Saputra, ME
Bertahun-tahun lamanya Desa Pulau Pandan (Jambi, Sumatera) terkungkung dalam permasalahan khas mereka sendiri. Tidak terlalu kaget ketika Desa tersebut menjadi daftar black list pihak kepolisian sebagai Kampung Narkoba. Kampung Narkoba adalah julukan negatif yang telah tertanam kuat untuk desa Pulau Pandan, Kecamatan Legok, Kota Jambi. Sebuah permasalahan yang sudah lama terbengkalai tentang daerah pinggiran. Antara lain justru karena dianggap enteng pelaksanaanya. Ada hal yang menggantung ketika penulis berusaha menguraikan konsep “pinggiran” jika dikaitkan dengan lingkungan desa Pulau Pandan. Sementara desa tersebut tepat berada di tengah-tengah kota Jambi. Tetapi, melihat kondisi pulau pandan yang tertutup, kotor, dan terkesan terosilir dari dunia luar. Bagaimana mungkin desa Pulau Pandan bisa dikatakan urban.
Melalui kepercayaan kami bahwa masyarakat yang mandiri adalah masyarakat yang terpenuhi kebutuhan finansial, edukasi dan spiritualnya. Komunitas Jendela (KomJe) hadir sebagai jendela bagi masyarakat Desa Pulau Pandan untuk saling bahu-membahu menjadikan masyarakat Pulau Pandan sebagai masyarakat yang mandiri. Komunitas ini berdiri sejak 22 Desember 2015. Sekalipun usia komJe belum genap satu tahun, tim KomJe sudah mengabdi sejak tahun 2012 dengan membawa nama Kelas Kreatif–sebagai kelas belajar anak-anak Pulau Pandan – hingga akhirnya memutuskan bermetamorfosis menjadi kelas yang lebih besar, yakni Komunitas. KomJe sendiri beralamatkan di Jl. Slamet ryadi lrg melati RT 27 kelurahan legok kecamatan danau sipin kota jambi dan sudah diresmikan oleh Wakil Gubernur Jambi, H. Fahrurozi.

Foto 1. Peresmian Komunitas Jendela oleh Wakil Gubernur Jambi, Bpk. H. Fahrurozi
KomJe memiliki visi menjadikan masyarakat pulau pandan berkarakter (Bermoral, kreatif, religius, aktif, dan tertib), yang kemudian melahirkan misi sebagai berikut;
- membina moral masyarakat Pulau Pandan
- menumbuh kembangkan kreatifitas masyarakat Pulau Pandan
- menjadi pusat pendidikan karakter
Hanya dengan berjumlahkan anggota sebanyak 20 anggota, dengan struktur kepengurusan meliputi; (1) Ketua : Ogi Saputra – Universitas Jambi, (2) Sekretaris : Erni Setyawati – Universitas Jambi; (3) Bendahara : Siti Aisyah Siregar – IAIN Jambi, (4) Devisi Human Research and Development : Ika Yuliana, Asad Mahmud, Dedy Jupriadi. (5) Devisi Parenting School : Santi Asiani, Neni Sumarni, (6) Devisi Educational Kids: Lika Wati, Siti Rahma, Ripayatul Husna, (7) Devisi Social Enterprenuer : Joko Riyanto, (8) Devisi Fun and Tour : Abdul Ibrahim, (9) Basecamp : Dirsandra
Melalui Donatur non-permanent, aksi galang dana dan Kas Komunitas, KomJe dapat menjalankan kegiatan seperti berikut;
- Festival Pulau Pandan (1 x setahun)
- Kelas Kreatif – (3 x seminggu; Senin, Rabu, Sabtu)
- Kelas Dongeng
- Taman Bacaan
- OutBond (1 x sebulan)
- Cek Kesehatan Gratis
- Beasiswa Anak
- Buka Puasa Bareng
Kisah Inspiratif
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, bahwa seseorang tidak akan bisa berbuat jahat dalam segala hal. Memang, di desa pulau pandan terdapat masyarakat yang memiliki catatan hitam. Namun tidak semua masyarakat menginginkan dan memiliki catatan hitam tersebut. Awal bergerak, Tim KomJe sama sekali belum memiliki tempat untuk mengajar. Dari masalah itu, kami memutuskan meminjam mesjid yang ada di Desa tersebut. Semua aktivitas mengajar kami lakukan di mesjid tersebut semenjak pukul 16.00 WIB hingga menjelang maghrib, semenjak tahun 2012 hingga tahun-tahun terakhir sebelum suatu hal membuat kami terharu.
Pada suatu sore, bulan Desember, ketika kami selama dua minggu tidak mengunjungi desa tersebut. kami dikejutkan oleh adik-adik Pulau Pandan yang terus berteriak histeris ketika melihat kedatangan kami. Mereka mengejar kami dam memeluk begitu saja dan berseru, “Kakak..! kakak…! kita punya markas..!!”
Rupanya, di hadapan kami, tepat di bawah mesjid yang berbentuk panggung, ada sebuah ruangan yang dibangun dengan batu bata-semen dengan jendela yang banyak dan terbuka. Ruangan bawah mesjid itu sengaja dibuat oleh masyarakat–yang katanya bandit-bandit itu –untuk kami dan adik-adik belajar menulis dan membaca. Beberapa IRT yang dengan senang hati menyerahkan anak mereka untuk Tim bina turut mengerumuni ruangan baru itu. Kami tak pernah menyangka, bahwa masyarakat yang hidup di desa Black list itu masih bisa menunjukkan bahwa mereka ingin memiliki generasi yang baik. Kami tidak pernah berhenti bersyukur karena akirnya kami mendapatkan ‘sambutan’ dari Desa tersebut sementara awalnya masyarakat memandang asing kami.
Dalam hal ini, kami akhirnya belajar bahwa ketika kita berbuat kebaikan, pahamilah bahwasnay kebaikan tidak harus kita dapatkan balasannya saat itu juga. Namun, yang perlu kita percaya adalah setiap orang akan menuai apa yang ia tanam. Hari ini, besok atau lusa, sesutau yang pernah kita tanam dengan sabar akan kita lihat juga. Jadi, jangan berhenti berbuat baik ya!


